Tanpa Judul #3

Lumajang, 30 Agustus 2018

Dulu sebelum lahir kita itu ngobrol sama Allah. Ngobrolin soal takdir. Entah saya ingat atau tidak tetapi saya yakin itu. Percakapan antara Tuhan dengan hambaNya. Hingga saya setuju. Setuju menerima takdirNya. Salah satunya, setuju menerima bahwa saya harus lahir menjadi anak dari dua orang yang luar biasa.

Lahir dan dewasa. Orang-orang mulai bertanya. Kenapa kamu tidak mengejar mimpimu. Menjadi seorang guru. Kenapa kedua orang tuamu tidak memperjuangkan mimpimu. Kenapa kamu tidak memperjuangkan mimpimu. Kenapa kamu selalu nurut sama mereka. Kenapa begini kenapa begitu. Banyak.

Padahal, mereka tak tahu jelas mimpiku sebenarnya apa. Mimpi yang kutulis pada pohon impian lalu kugantung indah di kelas sebelas semasa SMA. Mimpi yang membuat seorang Ibu guru memelukku, lalu menangis sambil berbisik sepatah dua kata yang sampai sekarang tak akan kulupakan kejadian itu.

Memang menilai proses itu jauh lebih sulit ketimbang menilai hasil. Itu sebabnya orang mudah berkata tanpa lebih dulu bertanya. Bahkan tak tahu pun mereka bisa dengan mudahnya menyimpulkan hanya sekedar berdasar pada opininya.

Mungkin bukan hanya Aku yang merasa. Ini untuk Kita. Abaikan saja mereka. Abaikan mereka yang tak pernah tahu tentang usaha kita. Abaikan mereka yang suka membandingkan kita hanya dengan satu atau dua orang yang nampak lebih unggul menurutnya. Percayalah, mereka itu sebenarnya enggan membuka mata untuk sekedar meyakini garis terindah yang ditentukan Tuhan terhadap masing-masing hamba.

Kita hanya perlu berjalan. Berjalan pada jalan yang mulus-mulus saja malah bisa membuat kita celaka. Nikmati saja jalan berbatu itu. Sesekali berhentilah untuk sekedar membuang beberapa batu besar yang menghalangi jalanmu. Jalan terus ikuti kehendak Tuhanmu. Sekalipun jalanmu begitu terjal, hajar. Lewati. Itu jalanmu. Jalan terindah dari Tuhanmu.

Orang lain memang berhak menilai kita. Tapi jangan lupa, kita juga berhak mengabaikannya. cc-

Iklan

Tanpa Judul #2

Lumajang, 16 Juli 2018

Berbulan-bulan Aku mulai mengalami tekanan batin. Penyakit yang bagiku sangat ekstrem. Bahkan, jika tak kuat bisa-bisa Aku bunuh diri. Haha tidak, ini hanya guyonan.

Bingung. Antara memilih apa yang dikata hati atau apa yang Orang tua inginkan dari anaknya ini. Sengaja biar cukup Tuhan yang tahu ini. Tentang air mata yang tak boleh sekalipun Bapak Ibu ketahui. Biar saja anaknya yang imut ini mewek sendiri lebih-lebih berdua, bersama Tuhannya pada dini hari. Menceritakan segalanya yang telah hati ini alami.

Hingga suatu saat Aku putuskan. Aku memilih. Memilih untuk meninggalkan cita-citaku demi Bapak Ibu. Karena Aku percaya dibalik ridhonya sudah pasti ada ridhoNya. Seingatku, guru Fisika SMAku dulu pernah berkata, apa yang dikata Ibumu, bisa jadi itu juga dari Tuhanmu. Kalau ibumu berkata A, InsyaaAllah Tuhanmu juga berkata A. Begitu katanya.

Sakit memang. Sakit tak berdarah. Tapi apa daya. Mungkin Aku bisa merengek minta ini pada Bapak Ibu. Aku juga bisa melakukan negoisasi padanya. Bahkan Aku bisa menjelaskan semuanya sedetail-detailnya. Akan tetapi tidak, nyatanya berbicara didepannya pun Aku tidak bisa. Jangankan berbicara, berkata saja sudah mengundang air mata. Boleh saja ini dianggap cengeng, lemah, alay. Tetapi bagaimanapun memang ini adanya.

Tidak mungkin Aku berbicara sok pintar dihadapannya, mendebatnya seakan-akan Aku jauh lebih mengerti daripada mereka. Mengeluarkan segala perkataan ilmiah yang mungkin mereka sulit bahkan tak mampu memahaminya. Sekalipun Aku lebih mengerti daripada mereka, Aku tidak akan pernah bisa berkata didepannya. Tidak mungkin Aku tega.

Mereka yang telah mengajariku pandai berbicara. Tetapi bukan berarti Aku harus pandai pula mendebatnya. cc-

Tanpa Judul #1

Jangan baca nanti nyesel.

Lumajang, 14 Juli 2018

Sejak beberapa bulan yang lalu. Aku diberi sedikit gambaran tentang masa depan. Gambaran bagaimana seorang manusia bisa meraih kehidupan sesuai dengan apa yang sudah lama Ia dambakan. Aku bercita-cita. Menginginkan segalanya yang sudah Kususun sedemikian rupa. Tak lupa Aku juga beranggapan bahwasanya meraihnya sangatlah mudah. Semudah menjadikannya angan-angan dengan segala skenario yang sengaja dibuat-buat bak film ternama.

Membuat list impian, yang kemudian sengaja dijadikan wallpaper hp agar dapat sesering mungkin dibacakan do’a serta sholawat didepannya. Boleh saja ini dianggap aneh. Tapi ini usahaku pada Tuhan.

IMG-20180223-WA0045
Bersama para pemimpi

Tidak banyak yang Aku impikan pada saat itu. Hanya sekedar impian anak muda yang masih duduk di bangku SMA. Bukan tentang harta maupun tahta yang umum didambakan para orang dewasa. Bukan tentang pacar atau gebetan yang umum dibicarakan para ABG muda. Sama sekali jauh dari keduanya.

Heran memang, Aku memiliki Tuhan Yang Maha Segalanya kenapa Aku tidak meminta apa yang orang lain minta. Kenapa Aku hanya berdo’a untuk itu-itu saja.

Aku bisa meminta mobil padaNya. Aku juga bisa meminta uang bahkan rumah. Tapi jujur Aku tidak tahu itu semua mau Kubuat apa. cc-

Terima Kasih #2

Dari kawanmu yang turut bahagia atas kehadiranmu.

Lumajang, 2 Juli 2018

Kira-kira, apa cuma saya ya yang suka mikir apa yang nggak seharusnya saya pikirin. Selama saya sekolah, bawaannya suka mikir ribet gitu. Males sekolah. Dikit-dikit tugas. Dikit-dikit ulangan. Sekali tugas bisanya satu soal dua soal doang. Anaknya sekampung. Sekali ulangan soalnya singkat. Jawabannya se-Indonesia. Belum lagi sejenis soal hitungan yang caranya diurut dari Sabang sampai Merauke tapi hasilnya 0. Ibaratnya nih ya kalau di Fisika, kita itu sudah berusaha mendorong Monas yang lagi PW dengan gaya sebesar 1000 N. Sia-sia mennn.

Belum lagi dengan masalah perbedaan pendapat antarteman di kelas. Mau ada acara sekolah, bikin ini bikin itu. Yang satu nggak ini yang satu nggak itu. Terjadilah cekcok antargolongan. Dan yang kalah, biasanya dari golongan legowo. Ada lagi yang sampai melibatkan Bapak Ibu Guru. Akibat salah ucap. Ada lagi yang melibatkan Bapak Ibu guru. Akibat adanya koneksi hati yang kuat. Beragam lah pokoknya.

Akan tetapi, bagi saya bertemu dengan teman-teman sekolah itu bisa dibilang suatu kebahagiaan tersendiri gitu. Iya, beneran. Kadang ya, kalau saya lagi galau berat nih di rumah terus paginya ke sekolah, ketemu temen-temen. Suka mendadak ilang gitu. Padahal kalau diperhatikan, temen-temen itu bercandanya cuma ya receh nggak receh lah ya. Tidak seheboh para lakon Srimulat. Malah kadang garing banget. Tapi nggak tau kenapa ikut tertawa sama mereka itu bikin semua yang ada di pikiran nih, yang bikin galau segala macem itu ilangnya cepet banget. Jangankan ikut tertawa, melihat guyonan mereka aja udah seneng gitu.

IMG-20180225-WA0002
Lihat saja aksi konyol Mas yang satu ini. Mas Wildan & Mas Dumang

Dibalik keribetan anak sekolah, ulangan, tugas, temen-temen multikasus ini itu segala macem. Saya jadi ngerasa bahwa saya dikasih hidup yang nggak monoton-monoton banget. Ada warna-warninya. Baru terasa sedap pas saya mau beranjak dari itu semua.

Oh iya ya, kalau saya dikasih yang baik-baik terus, dikasih yang manis-manis terus mungkin masa sekolah saya tidak akan saya kenang. Tidak akan saya rasa spesial. Bahkan tidak akan menjadi sebuah cerita menarik untuk keluarga saya di masa mendatang.

Ternyata dibalik keribetan zaman sekolah nih ya, kalau saya tengok ke belakang suka bikin senyum-senyum sendiri. Oh iya ya, saya dulu pernah dikeluarin dari kelas gara-gara bicara sama temen. Oh iya ya, saya dulu pernah lari muterin lapangan basket cuma gara-gara salah penggunaan kaidah tangan kanan. Oh iya ya, saya dulu pernah punya temen yang agak aneh nangis di pojokan. Oh iya ya, saya dulu pernah punya temen yang sukanya bikin drama bagus banget di kelas. Bak film ternama. Angling Darma.

IMG-20180223-WA0045
Di sinilah. Drama itu terjadi.

Oh iya ya, saya dulu pernah punya temen yang suka bertengkar pas lagi nggak sependapat. Oh iya ya, saya dulu punya temen yang suka makan bekal bersama, jajan bersama, jalan ke Masjid bersama. Saya pernah loh pulang sore gara-gara tugas kelompok bikin telur asin. Saya pernah loh setiap kali liburan malah di sekolah sampai sore hanya buat ngerjakan tugas kelompok. Dan lainnya banyak lagi. Unlimited stories pokoknya.

Itu semua ya kalau diingat dari alif sampai ya’. Dari A sampai Z. Suka bikin senyum-senyum sendiri. Suka kangen. Mungkin kalau seandainya saya dikasih yang monoton-monoton aja nih ya, saya nggak bakalan punya cerita. Yakin deh, nggak bakalan punya. Seperti hidup cuma ya yang penting hidup aja gitu. Bernafas. Makan. Tidur. Gitu doang. Hidup tanpa cerita percuma menn. Membosankan. Hambar gitu.

Jadi secara tidak sadar, mereka nih temen-temen yang ada di sekolah Bapak Ibu guru Bapak Ibu kantin dan Bapak Ibu yang lainnya. Mereka ini punya warna masing-masing dan secara tidak langsung, mereka sudah menyumbangkan warna-warnanya dalam hidup saya.

Memang terkadang kebahagiaan itu suka diberikan oleh seseorang tanpa ia sadari. cc-

Terima Kasih #1

Dari kawanmu yang turut bahagia atas kehadiranmu.

Lumajang, 30 Juni 2018

Kebetulan malam ini malam minggu. Lagi asik nonton tv. Sendirian. Muter-muterin remote tv yang yahh lumayan unyu sih bentuknya. Kotak. Ada tombol-tombolnya. Mantengin acara komedi terasik suguhan NETtv. Buka hp, liat notif. Gita Triana. Dapet Whatsaap nih dari salah satu temen seorganisasi pas SMA dulu. Jadi ceritanya baru lulus SMA. Keren kan?. H a h a

Akrab banget. Ngobrolin ini itu segala macem. Padahal sejarahnya cuma ngelirik, senyum. Udah gitu aja. Jadi kalau boleh buka kartu nih, saya ini termasuk orang yang agak susah kalau mau berteman sama orang baru. Sepele aslinya. Cuma gara-gara saya ini suka lupa sama nama orang. Ya kecuali kalau sudah setahun dua tahun kenal beda lagi ceritanya. Kadang nih kalau udah tau namanya, terus ketemu ini itu pasti mikir dulu mau nyapa. Ya gitu ingat wajahnya lupa namanya. Entah kelainan macam apa ini.

IMG-20171013-WA0015
Teman saya punya

Saya memang bukan orang yang mahir merangkai sajak apalagi kata-kata manis yang terkesan mistis. Ribet. Beneran. Tapi ini jujur, di masa SMA ini saya seperti menemukan keluarga baru. Benar-benar baru. Masih bersegel. Yang ya mungkin sengaja Allah kirim spesial buat saya. Spesial banget.

Saking spesialnya nih, mereka itu selalu suka do’ain yang terbaik satu sama lain. Beneran. Ini bukan sotoi, gule, apalagi sate.

Jadi, biasanya nih kalau pas lagi ketemu kita itu hampir selalu berjabat tangan. Ya oke lah, minimal senyum gitu. Entah itu tau namanya atau tidak. Tau wajahnya atau tidak. Ya kali ya nggak berwajah. Terbaik pokoknya.

Saya jadi inget kata Rasulullah seorang muslim yang berjabat tangan maka bakal ngegugurin dosa diantara keduanya. Ya Alhamdulillah nih. Buat nebus kebiasaan saya yang suka lupa nama orang dan akhirnya nggak nyapa. Cuma ngelirik doang. Itu pun kalau sempat.

IMG-20170408-WA0026
Nobar-nobar Klub

Di penghujung masa SMA, jabat tangan antara kami ini agak berbeda. Terutama sama adik kelas. Ada embel-embelnya nih. Iya, jadi habis jabat tangan pasti ngomong do’ain sukses UNBK yaa, do’ain masuk PTN impian juga ya dan do’ain ini itu banyak lah pokoknya. Pasti itu.

Iya Mbak, Aamiin yaa semoga ini itu blablabla. Manis banget jawabnya. Nggak ada pahit-pahitnya.

Kadang kita itu kalau udah ketemu suka pelukan lama. Lama banget. Terus nangis. Do’ain ya do’ain. Iya, pasti. Suka kayak Anak yang mau ditinggal Emaknya gitu. Tapi ini yang bakalan sulit buat saya temuin kembali. Ya kita ini apaan sih, cuma orang-orang yang sengaja dihubungkan dalam garis takdir. Dipertemukan. Yang awalnya nggak kenal sama sekali. Ibu Bapak apalagi. Tiba-tiba saling ngasih semangat. Saling ngedo’ain. Kan diluar pikiran banget gitu. Einstein aja mungkin nggak bakalan kepikiran.

IMG-20170212-WA0017
Transformers. Pernah jadi peraih suporter terbaik lho.

Jadi kadang saya suka mikir. Allah itu keren banget ya. Asli keren. Ngirim orang-orang model kayak gini di hidup saya. Limited edition gitu. Terbaik, nikmat banget pokoknya dikasih mereka. Emang nih, kalau sedikit kita koneksikan pakai pikiran yang bener-bener mikir nih ya, ngomongin soal nikmat. Patut diakui dan disyukuri nih.

Nikmat-Nya benar-benar tiada batas. cc-

Intro dulu ya :)

welcome. post pertama nih 🙂

Bismillahirrahmanirrahiim.

Hehe. Iya, jadi ini postingan pertama. Alhamdulillah, dibukain lagi pintu hati buat kembali nulis. Yaa buat iseng-iseng lah ya mengisi kegabutan.

Jujur sebelumnya sudah pernah bikin blog pribadi juga sih (pas SMP) dan Alhamdulillah sudah sempet nulis juga, tapi karena sudah lama banget jarang dibuka ya bahkan hampir nggak pernah ngakses email, blog segala macem jadi ya sudah lupa email sama passwordnya. Maklum, pas itu laptop lagi sakit parah-parahnya, sudah masuk UGD segala macem sampai koma dua tahun dan akhirnya mati juga, Alhamdulillah.

Dan sekarang welcome back, gara-gara habis baca tulisannya Bang  Abdur nih!. Kok bisa?. Ya jadi ceritanya gini, semenjak sore itu nggak tau kenapa tiba-tiba seneng banget mantengin channel Youtubenya Bang Abdur yang kontennya cukup menarik bagi saya. Matematikasik. Mungkin karena saya sebut saja hatersnya Matematika kali ya, yang kebetulan lagi nemu konten bagus tentang Matematika dan akhirnya tergerak hati dan tertarik buat ngikutin.

wrd1
Channel Youtubenya Bang Abdur nih!

Karena menarik banget, pas saya lagi iseng buka twitter saya coba tuh lihat twitternya Bang Abdur. Kebetulan saya sudah follow cuma nggak di follback. Sakit tapi tak berdarah kalau kata netizen. Nah, pas baru buka ada twitt terbarunya Bang Abdur tuh, ada link blognya. Penasaran kan saya, yaudah saya klik open in new tab terus saya baca tuh tulisannya dari satu judul ke judul lain. Asli keren. Sampai saya foto terus buat Whatsapp story. Mantabb.

Oke, singkat cerita. Niat hati mau ngomen tulisannya Bang Abdur eh malah kepencet ikon WordPress yang ada di kolom komentar, ya akhirnya saya lanjutin nih buat bikin juga. Karena penasaran juga sama kayak ginian maklum udah lama juga ya kan, jadi saya coba buka tab baru saya googling domain ini segala macem akhirnya saya pilih yang gratisan aja lah ya. Kan lumayan.

Yaudah deh saya buat, setting ini itu segala macem. Ngetik lagi. Berimajinasi lagi. Ngasah jari lagi buat ngetik. Sekalian biar jari pada olahraga. Intro lah ya. Semoga ke depannya bisa nulis yang agak bagusan, minimal bisa menghibur, mengisi kegabutan temen-temen, lebih-lebih bisa bermanfaat nih Aamiin. InsyaaAllah. Doain. Hehe. -cc